Kenapa Algoritme SERP Google Semakin Hari Semakin Jelek

Kenapa Algoritme SERP Google Semakin Hari Semakin Jelek

Algoritme SERP Google dulu terasa seperti peta yang rapi: ketik pertanyaan, lalu Anda dibawa ke jawaban paling relevan. Tapi beberapa tahun terakhir, banyak orang merasakan hal yang sama—hasil pencarian makin “nggak nyambung”, kebanyakan iklan, konten terasa mirip-mirip, dan jawaban yang dicari malah tenggelam. Pertanyaannya: kenapa algoritme SERP Google semakin hari semakin jelek di mata pengguna?

Artikel ini membahasnya dengan cara yang ringan tapi tetap informatif. Kita akan lihat apa yang berubah di Google, kenapa konten berkualitas kadang kalah, dan apa yang bisa Anda lakukan agar tetap menemukan informasi yang benar.

1. Dulu “Cari”, Sekarang “Jual”: SERP Makin Padat Iklan

Salah satu keluhan paling umum adalah: hasil pencarian terasa seperti etalase iklan. Untuk banyak kata kunci komersial, Anda sering melihat iklan di bagian atas, lalu blok “produk”, lalu fitur lain, baru setelah itu link organik.

Ini bukan sekadar perasaan. Google memang terus mengembangkan format iklan dan elemen komersial di halaman hasil. Dampaknya, pengguna harus scroll lebih jauh untuk menemukan jawaban yang dulu biasanya muncul di 3 hasil teratas. Pada akhirnya, pengalaman “mencari” berubah menjadi pengalaman “memilah” dan “menyaring” lebih lama.

Di titik ini, wajar kalau muncul kesan bahwa kenapa algoritme SERP Google semakin hari semakin jelek—karena bagi user, yang terlihat pertama bukan relevansi, tapi monetisasi.

2. Konten “Mirip Semua”: Efek Template SEO dan Copycat

Anda mungkin pernah mencari “cara mengatasi X” lalu menemukan 10 artikel dengan pola yang sama:

  • Paragraf pembuka generik
  • Daftar langkah 1–10
  • Penutup yang mirip

Ini terjadi karena banyak publisher mengejar format yang “aman” untuk SEO: struktur rapi, judul menarik, keyword ada, dan mudah diproduksi massal. Masalahnya, ketika semua orang meniru pola yang sama, hasil pencarian jadi terasa seperti satu artikel yang disalin 20 kali dengan kata-kata berbeda.

Di masa lalu, Google lebih mudah menonjolkan halaman paling “unik”. Sekarang, dengan ledakan konten, algoritme sering kesulitan membedakan mana yang benar-benar membantu, mana yang hanya memenuhi checklist SEO.

3. AI Mempercepat Produksi Konten, Tapi Tidak Selalu Memperbaiki Kualitas

Kemunculan AI generatif membuat produksi artikel jadi jauh lebih cepat. Di sisi baiknya, ada konten yang jadi lebih rapi dan informatif. Tapi di sisi buruknya, banyak juga yang sekadar “mengisi internet” dengan tulisan hasil kompilasi, tanpa pengalaman nyata, tanpa data, dan tanpa tanggung jawab editorial.

Akibatnya:

  • Informasi cenderung dangkal
  • Kesalahan kecil menyebar cepat
  • Banyak konten dibuat untuk ranking, bukan untuk membantu

Google berusaha melawan spam dan konten berkualitas rendah, tapi arusnya besar. Jadi ketika orang bertanya kenapa algoritme SERP Google semakin hari semakin jelek, salah satu jawabannya adalah: karena internet sendiri sedang “kebanjiran” konten cepat yang sulit difilter sempurna.

4. Perang Melawan Spam vs. Salah Tembak Konten Bagus

Google melakukan banyak update untuk menekan spam, termasuk yang menargetkan konten otomatis, clickbait, dan jaringan situs berkualitas rendah. Tapi update skala besar sering punya efek samping: konten bagus ikut terdampak.

Misalnya, ada blog kecil yang menulis panduan dari pengalaman pribadi, lengkap dan jujur. Namun karena tidak punya “sinyal otoritas” besar (brand terkenal, backlink kuat, atau reputasi media), kadang artikel seperti ini kalah oleh situs yang lebih besar walau isinya biasa saja.

Ini membuat SERP terasa “semakin korporat”: situs besar menang lebih sering, sementara suara kecil yang sebenarnya membantu jadi lebih sulit ditemukan.

5. Perubahan Perilaku Pengguna: Google Bukan Satu-satunya Tempat Mencari

Fakta menariknya, banyak orang sekarang mencari jawaban lewat platform lain: forum, komunitas, video, atau media sosial. Bahkan, beberapa orang menambahkan kata seperti “reddit”, “forum”, atau “pengalaman” pada query mereka supaya hasilnya lebih manusiawi dan tidak terlalu “marketing”.

Ini memberi sinyal bahwa pengguna mulai menilai SERP tradisional kurang memuaskan. Bukan berarti Google selalu buruk, tapi ekspektasi pengguna naik: mereka ingin jawaban yang spesifik, jujur, dan relevan—bukan sekadar halaman yang paling pandai “dioptimasi”.

6. Contoh Nyata yang Sering Terjadi di SERP

Agar lebih terasa, ini beberapa pola yang sering ditemui:

  • Mencari solusi teknis: yang muncul artikel umum, sementara jawaban tepat ada di forum yang posisinya jauh di bawah.
  • Mencari review produk: yang muncul banyak artikel afiliasi dengan kesimpulan “semua bagus”, tanpa minus yang jelas.
  • Mencari rekomendasi: yang muncul listicle generik yang terlihat dibuat massal.

Hal-hal ini membangun persepsi bahwa kenapa algoritme SERP Google semakin hari semakin jelek bukan sekadar keluhan emosional, tapi pengalaman yang berulang.

7. Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Pengguna?

Kabar baiknya, Anda bisa “menyetir” hasil pencarian agar lebih relevan. Beberapa trik sederhana:

  • Gunakan operator pencarian seperti tanda kutip untuk frasa spesifik, atau “kata” untuk mengecualikan.
  • Tambahkan konteks seperti “pengalaman”, “studi kasus”, “2025”, “forum”, atau “pdf”.
  • Cek beberapa sumber, jangan bergantung pada satu hasil teratas.
  • Perhatikan tanda komersial: kalau artikel terlalu agresif menjual, cari pembanding lain.

Kalau Anda pemilik website atau pembuat konten, fokuslah pada hal yang sulit dipalsukan: pengalaman nyata, data, contoh, dan sudut pandang yang jelas. Itu yang biasanya bertahan saat algoritme berubah.

SERP Tidak Sepenuhnya Rusak, Tapi Sedang Berubah

Jadi, kenapa algoritme SERP Google semakin hari semakin jelek? Karena kombinasi banyak hal: iklan makin dominan, konten makin seragam, banjir produksi cepat (termasuk AI), dan sistem penilaian yang kadang lebih menguntungkan “yang besar” dibanding “yang paling membantu”.

Namun ini bukan akhir dari pencarian. Justru kita sedang masuk fase baru: pengguna jadi lebih kritis, pembuat konten dituntut lebih jujur, dan mesin pencari dipaksa beradaptasi lagi. Google masih bisa memberi jawaban terbaik—asal kita tahu cara bertanya dengan lebih tepat, dan asal ekosistem kontennya juga ikut membaik.

Kalau Anda merasa SERP makin melelahkan, Anda tidak sendirian. Tapi dengan strategi pencarian yang lebih cerdas dan kebiasaan memverifikasi sumber, Anda tetap bisa menemukan informasi yang benar di tengah kebisingan digital.

Similar Posts